Jakarta – Kabar yang baru-baru ini beredar
datang dari perairan internasional pada minggu ini. Sembilan warga negara
Indonesia yang ikut dalam misi pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0
ditangkap oleh tentara Israel ketika ingin menuju ke Gaza, Palestina. Tetapi
ada kabar baik, pada Kamis 21 Mei 2026, Menteri Luar Negeri yaitu Sugiono
memberitahukan bahwa kesembilan WNI itu sudah dibebaskan dan sudah sampai di
Istanbul, Turki.
Siapa Mereka dan Apa Misinya?
Kesembilan WNI tersebut terdiri dari empat jurnalis
dan lima aktivis yang ikut dalam Global Sumud Flotilla 2.0, yaitu sebuah barisan
pelayaran kemanusiaan internasional yang tujuannya untuk menembus pengepungan
dan mengantarkan bantuan ke Gaza. Kesembilan WNI tersebut yaitu Andi Angga
Prasadewa, Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, Bambang
Noroyono (Abeng), Heman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Asad Aras Muhammad,
dan Hendro Prasetyo.
Mereka di sebar ke beberapa kapal yang beda dalam
barisan tersebut, yaitu kapal Josef, Ozgurluk, Boralize, Zapyro, dan Kasr-1.
Kronologi Penagkapan
Ada dua tahap yang terjadi dalam penangkapan tersebut. Senin 18 Mei 2026, lima WNI yang pertama yaitu Andi, Rahendro, Andre Thoudy, dan Abeng, mereka di tangkap oleh tentara Israel. Herman dan Ronggo sempat berhasil kabur karena taktik kapten kapal yang berhasil menghindar dari kejaran. Tapi setelah beberapa jam, keduanya ikut ditangkap. Besoknya, pada Selasa 19 Mei 2026, Asad dan Hendro menyusul ditangkap.
Rabu 20 Mei 2026, kesembilan WNI mengirimkan pesan darurat atau SOS berupa video yang isinya menyatakan bahwa mereka ditahan oleh tentara israel. Video itu langsung ramai dan menimbulkan desakan dari banyak pihak agar pemerintah segera bergerak.
Respons Pemerintah
Pemerintah Indonesia bergegas bergerak walaupun ada
satu halangan besar, yaitu Indonesia tidak memiliki jalur diplomatik langsung
ke Israel. Menlu Sugiono menyatakan pihaknya segera berkoordinasi dengan
negara-negara sahabat yang bisa berkomunikasi secara langsung dengan Israel.
“Saya sendiri sudah meminta perwakilan kita agar
berkomunikasi dengan kementerian luar negeri di Yordania, Turki, dan Mesir,
untuk mencari informasi yang akurat terkait posisi dan keadaan saudara-saudara
kita yang ditangkap,” kata Sugiono.
Di waktu yang sama, Menlu juga memberikan penegasan bahwa ini bukan kasus penculikan atau penyanderaan. Pernyataan itu sempat mendapat respons dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang meminta pemerintah agar lebih tegas dalam menyikapi situasi ini.
Turgi jadi negara kunci pada kasus ini. Menlu Sugiono
memberikan apresiasi besar kepada Pemerintah Turki atas perannya untuk membantu
mengembalikan para WNI.
Dugaan Penyiksaan Selama Penahanan
Yang juga bikin khawatir adalah kondisi para WNI
tersebut ketika ditahan. Setelah pembebasan, Menlu Sugiono mengecam keras
perlakuan Israel terhadap para relawan dan jurnalis Indonesia.
“Indonesia mengecam keras tindakan penyiksaan yang
dilakukan oleh Israel terhadap WNI pada saat penahanan,” kata Sugiono.
Ia memberikan penegasan bahwa
tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter
internasional. "Tindakan yang merendahkan martabat warga sipil dalam
sebuah misi kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter
internasional yang tidak dapat ditoleransi," tegasnya.
Meskipun begitu, detail soal bentuk
penyiksaan yang dialami para WNI belum diungkapkan secara resmi oleh
pemerintah.
Kini Dalam Proses Pemulangan
Per Kamis 21 Mei 2026, kesembilan WNI
telah tiba di Istanbul. Kementerian Luar Negeri RI menyatakan sedang memproses
pemulangan mereka ke Indonesia.
“Pemerintah Indonesia saat ini terus
berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan proses pemulangan
seluruh WNI ke tanah air berjalan dengan lancar sehingga seluruh WNI dapat tiba
kembali dengan selamat dan sesegera mungkin," kata Sugiono.
Menlu juga menyampaikan apresiasi kepada para WNI atas keberanian mereka karena tetap menjalankan misi kemanusiaan walaupun resikonya besar. Ia memastikan pemerintah akan terus mengawal proses pemulangan hingga seluruhnya tiba di tanah air dengan selamat.